Kriteria Edge Data Center Yang Wajib Diketahui oleh Para CIO

Pasar data center akan memasuki era edge data center seiring dengan perkembangan big data dan teknologi IoT (Internet of Things) yang semakin berkembang di Indonesia, oleh karena itu sangat penting untuk mengenali kriteria edge data center yang dapat memenuhi syarat yang dapat dikatakan sebagai edge data center bukan sebagai Tier 2 data center.

Lonjakan komputasi awan dan penggunaan aplikasi berbasis internet telah membentuk suatu kebutuhan baru yang bergerak kearah tepi, internet akan dapat diakses dimana saja walaupun pada area pegunungan, apalagi Microsoft telah mendapatkan cara untuk menggunakan sinyal televisi sebagai sinyak internet.

Kriteria Edge Data Center yang wajib diketahui oleh para CIO di IndonesiaSecara historis edge data center terbatas pada level Tier 1 dan Tier 2  dengan tingkat jumlah downtime mencapai 22 jam sampai 28 jam dalam setahun, tentunya hal ini sudah tidak dapat di tolerir lagi terutama untuk organisasi yang sangat bergantung pada aktifitas operasional IT.

Memang jika hanya digunakan untuk browsing akan sulit untuk melihat apakah kita sudah memerlukan edge data center atau belum, namun untuk penggunaan sejenis mission-critical atau real-time traffic seperti video, aplikasi cloud, atau untuk bermain game, maka latency dapat secara signifikan menurunkan kinerja dan resiko keamanan.

Trend tersebut menyebabkan banyaknya data center dan penyedia colocation center mulai berusaha memperluas layanan mereka. Salah satu contohnya adalah akuisisi vXchnge untuk delapan fasilitas SunGuard yang bertujuan untuk memperluan jangkauan layanan dengan mempercepat kehadiran strategis untuk pasar berbasis edge bagi perusahaan yang sedang berkembang.

Kebutuhan seperti yang dijelaskan oleh vXchange menyiratkan adanya kebutuhan dipasar bagi perusahaan umum (bukan perusahaan IT) dan juga untuk organisasi seperti untuk kebutuhan TIK di pemerintahan di Indonesia, namun kebanyakan dipasaran kriteria edge data center yang tersedia hanya terbatas pada Tier 2.

Kriteria Edge Data Center Yang Wajib Diketahui

Berikut beberapa kriteria Edge Data Center yang wajib diketahui oleh para praktisi IT dan CIO baik di perusahaan maupun pemerintahan Indonesia untuk menghindari salah persepsi:

  1. Merupakan Tier 3, N+1 Data Center

    Sebuah data center yang tersetifikasi oleh uptime institute sebagai Tier 3 dapat menjamin tingkat akses hingga 99.982% dan cukup banyak certified Tier 3 Data Center yang berkemampuan sama dengan Tier 4 Data center bahkan mencakup hampir 100% tingka aksesibilitas seperti pada data center Elitery di Indonesia.

    Tingkat uptime ditambah pasokan cadangan listrik dan link komunikasi data yang diperlukan untuk konektivitas pada data center Tier 3 dapat lebih memenuhi kebutuhan masyarakat luas dan perusahaan besar untuk memenuhi kinerja ribuan hingga jutaan orang karyawan.
    Oleh karena itu, jika sebuah edge data center tidak memenuhi kriteria ini maka hanya dapat dikategorikan sebagai Tier 2 data center, disini berlaku tegas persyaratan untuk dapat masuk sebagai kriteria edge data center.

  2. Menggunakan 75% Koneksi Internet Lokal

    Salah satu kriteria edge data center bertujuan untuk memberikan akses konten yang lebih dekat ke pengguna seperti halnya pada sistem CDN / Caching namun tentunya dengan koneksi internet lokal di suatu wilayah – contohnya di Indonesia dengan koneksi bandwith IIX yang jauh lebih cepat dan lebih murah karena tidak melalui satelit atau hanya melalui fiber optik, dapat lebih mempercepat akses terhadap suatu aplikasi berbasi cloud terutama yang memuat content multimedia.

    Contoh pada penggunaan aplikasi transportasi online Grabike di Indonesia yang jika mereka menggunakan colocation server di luar Indonesia tentunya resiko latency jauh lebih besar, seperti terhentinya akses di sisi pengguna atau pengguna mengalami kegagalan sistem sehingga tidak dapat melakukan order, jika ada 100.000 pengguna yang dapat memberikan pemasukan Rp. 25rb x 100.000 tentunya pada satu kali moment down time Grabbike kehilangan pendapatan sebesar Rp. 2.5 milyar, cukup besar bukan ?

    Tentunya jika ada pesaing Grabbike (katakanlah GoJek dan Uber) yang menggunakan jasa colocation service di Indonesia tentunya para pelanggan akan lebih merasakan kenyamanan dalam menggunakan layanan para pesaing GrabBike.

    Oleh karena itu keberadaan Edge Data Center di Indonesia dapat berfungsi bagi perusahaan asing penyedia layanan cloud (IaaS dan SaaS) dalam menyebar data center mereka di Indonesia jika memang kebutuhannya cukup besar, namun dalam segi ekonomis tentunya perusahaan asing seperti Amazon Web Services dapat mengkolokasikan servernya di data center Indonesia.

  3. Tingkat Keamanan Lebih Tinggi

    Dengan desain data center yang ter-isolasi, edge data center lebih memberikan kemampun mengisolasi jaringan dari serangan DDoS, hal ini dapat menjadi manfaat besar bagi organisasi yang ingin menggunakan penyedia layanan cloud seperti Microsoft Azure atau Amazon Web Services.

  4. Akses Multi Media Lebih Lancar

    Pada era digital sekarang ini, sebenarnya layanan suatu perusahaan dapat diukur dari kemampuan untuk memberikan akses multimedia berkualitas tinggi seperti Full HD Video Streaming atau Retina Web. Hal ini hanya dapat dilakukan jika konten berada dekat dengan pengguna atau konten dapat diakses dengan koneksi bandwidth lokal.

    Sebagai contoh:
    Jika sebuah TV Digital menempatkan server di luar negeri, tentunya harus ada akses koneksi ke infrastruktur jaringan internet di luar negeri untuk dapat menyampaikan konten multimedia ke TV pelanggan, akan tetapi jika perusahaan TV Digital tersebut memiliki Edge Data Center di Indonesia atau menempatkan server di Indonesia maka konten siaran TV dapat diakses tanpa harus “pergi-jauh” ke satelit ulang alik, dalam hal penggunaan data center di Indonesia bagi penyiaran TV Digital – latency akses jaringan dapat jauh diperkecil sehingga streaming di TV pelanggan lebih stabil. Tentunya seluruh program siaran di cache pada sebuah sistem CDN di data center Indonesia.

  5. Biaya dan Manfaat Lebih Terukur

    Dengan Edge Data Center, para penyedia layanan harus mampu menawarkan kinerja yang jauh lebih baik dengan biaya lebih rendah. Edge data center sangat berguna bagi para penyedia data center Indonesia yang akan merambah pada layanan infrastruktur on demand (IaaS) sehingga tidak terlalu ber-resiko dalam melayani pelanggan utama mereka yang nota bene adalah korporasi besar dan organisasi pemerintahan, dimana data penting sangat banyak tersimpan.

Elitery sebagai Data Center Tier III yang sudah ter-sertifikasi oleh uptime institute dapat bekerjasama dengan vendor Edge Data Center seperti Schneider Electric dan Huawei untuk mengadakan solusi Infrastruktur-as-a-Service atau untuk melayani kebutuhan penambahan data center bagi koroporasi dan pemerintahan, karena syarat kriteria Edge Data Center tetap harus pada domain Tier III.

Dengan hadirnya teknologi Edge Data Center di Indonesia tentunya dapat lebih mendukung aktifitas operasional IT sampai ke pelosok nusantara, mengingat penetrasi pertumbuhan pengguna internet di Indonesia sangat tinggi dan banyaknya perusahaan startup Indonesia yang membuat aplikasi IoT yang berfokus pada sektor pertanian dan peternakan, tentunya pemerintah Indonesia sudah harus mulai melirik ke solusi data center terbaru ini yang lebih hemat jika dibanding dengan membangun gedung untuk fasilitas data center.

Edge Data Center merupakan pengembangan dari modular data center set fasilitas data center yang sudah di produksi hingga dapat dipakai secara cepat sesuai spesifikasi kebutuhan yang di inginkan.

Silahkan berdiskusi..
6 Perusahaan StartUp Indonesia yang Sudah Mendunia
Pertumbuhan Pasar Cloud Services Secara Global

One Response so far.

  1. […] kebutuhan infrastruktur IT secara cepat, untuk sementara waktu sebelum sebuah tambahan atau sebuah Edge Data Center berhasil mereka hadirkan untuk mencukupi kebutuhan […]