4 Cara Untuk Mencegah Downtime Sistem Teknologi Informasi

Mengambil empat langkah dalam cara mencegah downtime ini akan membantu meningkatkan waktu kerja, dan pada akhirnya lebih baik mempertahankan kelangsungan bisnis.

cara mencegah downtime

Banyak Bisnis Merugi Karena TIDAK MILIKI CARA UNTUK MENCEGAH DOWNTIME

Di dunia yang digerakkan oleh data digital sekarang ini, downtime sistem merupakan ancaman signifikan terhadap operasi bisnis organisasi. Analis rumah Aberdeen memperkirakan biaya rata-rata downtime lebih dari Rp. 2 miliar per jam.

Serangan cyber banyak mengincar layanan jasa keuangan yang dapat menghentikan layanan perbankan online dan fintech. Downtime akibat DDoS hanyalah pengalih perhatian, dan ini jika sudah mengincar Indonesia maka dapat digunakan untuk menembus keamanan perbankan nasional dan fintech.

Akibatnya, mengurangi kegagalan sistem dan risiko yang terkait dengan TI telah meningkat di agenda. Kesinambungan bisnis dan rencana pemulihan bencana harus ada, terlepas dari ukuran bisnis. Tidak memiliki rencana untuk menangani downtime dapat menciptakan sakit kepala yang lebih besar daripada downtime itu sendiri.

Downtime dapat terjadi secara tak terduga dan mendadak, oleh karena itu setiap perusahaan harus memiliki cara untuk mencegah downtime. Tidak peduli seberapa baiknya rencana pemulihan bencana Anda, kebanyakan organisasi lebih suka tidak pernah menggunakannya. Dan ketika terjadi downtime, perusahaan tersebut mengeluarkan biaya yang sangat besar.

Ketika server untuk misi kritis lumpuh, risiko keamanan dan kehilangan data meningkat secara signifikan – dokumen, data, komunikasi, dan informasi dapat menghilang semua. Hal ini dapat terjadi pada bisnis apapun termasuk perbankan nasional.

Terlepas dari apa yang dipikirkan banyak pengguna, dalam beberapa kasus downtime bukan selalu kesalahan pihak TI ketika terjadi. Downtime dapat disebabkan oleh masalah yang sederhana seperti server yang kelebihan beban, jadi memastikan bahwa layanan tersebut disiapkan dan dipelihara dengan benar perlu menjadi prioritas utama.

Tentu saja, tidak ada tim TI yang dapat menjamin ketersediaan 100% dan tanpa downtime. Tetapi memiliki cara untuk mencegah downtime adalah penting, dan ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh perusahaan.

4 Cara Cegah Downtime

Berikut 4 cara untuk mencegah downtime sistem teknologi informasi:

  1. Periksa SLA vendor dan mitra utama

    Memeriksa perjanjian tingkat layanan (SLA) dari semua vendor utama dan mitra yang digunakan oleh organisasi Anda adalah hal yang sangat tepat untuk memulai. Setiap produk TI perusahaan yang baik akan datang dengan tingkat ketersediaan yang disepakati, dan jika ini tidak memenuhi kebutuhan bisnis, alternatif harus dieksplorasi.

    Telah ada banyak pembicaraan seputar pencapaian ‘lima sembilan’ (ketersediaan 99,999%), maksimum lima menit 32 detik downtime dalam setahun, tetapi perusahaan anda tidak dapat mengharapkan ini jika mereka menggunakan teknologi dengan SLA rendah hanya 90% waktu aktif.

    Sebagai salah satu cara yang mudah untuk lebih memastikan SLA untuk sebuah colocation data center misalnya adalah dengan melihat sertifikasi TIER dari the Uptime Institute.

  2. Gunakan pengaktifan aktif-aktif untuk semua sistem TI inti

    Active-active clusters membantu menyeimbangkan beban kerja server di berbagai jaringan, mengurangi risiko downtime dengan meminimalkan overload. Ada beberapa organisasi yang juga menggunakan kluster aktif-pasif, walau lebih mahal sedikit tapi dapat diandalkan untuk mengatasi downtime.

  3. Menyebarkan infrastruktur load-balancing yang scalable

    Kemampuan untuk mengukur dan menyeimbangkan beban kerja di beberapa server diperlukan untuk memastikan transaksi bisnis yang cepat dan efisien. Load-balancing berarti ketika satu node tidak tersedia, seperti ketika melakukan beberapa tindakan pada file, node lain dapat terus memproses file dan merespon permintaan.

    Bahkan ketika downtime direncanakan, itu masih bisa menjadi menurunkan produktivitas. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa infrastruktur diimbangi untuk mengatasi permintaan, mudah terukur, mengurangi kebutuhan untuk setiap downtime yang direncanakan.

  4. Mengandalkan solusi transfer file yang dikelola dalam satu konsol

    Menggunakan beberapa server file dapat menciptakan kerentanan integrasi sistem-ke-sistem, meningkatkan risiko downtime, gangguan, dan pelanggaran keamanan perusahaan. Transfer file yang dikelola secara dramatis mengurangi risiko downtime yang ditimbulkan oleh pelanggaran data sementara memungkinkan berbagi file fleksibel dengan klien, mitra, dan staf lainnya.

    Jika suatu organisasi menggunakan beberapa vendor untuk satu atau beberapa layanan serupa, akan lebih sulit bagi semua pihak yang terlibat untuk menemukan potensi kerentanan, dan bagi vendor untuk membantu dengan dukungan yang tepat.

    Menggunakan vendor yang sama benar-benar dapat membantu mengurangi downtime: sistem dan proses di seluruh organisasi akan kompatibel, tidak bersaing, dan kerentanan akan jauh lebih mudah terlihat sebagai hasil dari jaringan yang lebih sederhana.

Kesimpulan:

Singkatnya, downtime tidak akan pernah dihapus sebagai ancaman terhadap kelangsungan bisnis, tetapi dapat dikurangi. Dengan menggunakan sistem disaster recovery, waktu henti operasional dapat berkurang, bahkan untuk downtime yang terencana.

Proses seperti perbankan, komunikasi, penjualan, dan korespondensi semuanya telah di digitalisasi, dan sebagai hasilnya ada peningkatan ketergantungan pada TI dan permintaan untuk layanan yang selalu aktif.

Memeriksa SLA dan menggunakan teknologi transfer file dari satu vendor dapat menghemat anggaran. Mengambil keempat langkah cara untuk mencegah downtime akan membantu meningkatkan waktu kerja, dan pada akhirnya anda dapat lebih baik dalam mempertahankan kelangsungan bisnis.

Silahkan berdiskusi..

You must be logged in to post a comment.

Pin It on Pinterest

Share This