Pertumbuhan Pasar Cloud Services Secara Global

Pasar cloud services secara global sejak tahun 2008 hingga 2014 mengalami laju pertumbuhan majemuk / CAGR (Compound Annual Growth Rate) sebesar 35.8% dengan tingkat pertumbuhan terbesar pada layanan SaaS (Software as a Service) yang pada tahun 2010 mencakup 70% dari total pertumbuhan pasar senilai Rp. 504 Triliun atau sebesar Rp. 353 Triliun.

Penurunan Pertumbuhan Pasar Cloud Services di Tingkat Global

Berdasarkan data dari Gartner, pasar cloud service secara global dari tahun 2014 ke Tahun 2016 mulai ada penurunan CAGR yang semula 35.8% dengan nominal Rp. 74 triliun menjadi 22.8% namun diprediksi meningkat secara nominal hingga tahun 2018 sebesar Rp. 1700 triliun.

Pertumbuhan Pasar Cloud Service Dunia

Pasar layanan SaaS tersebut dikuasi oleh beberapa pemain besar seperti Adobe Web Connect, Google Mail, Cisco WebEx, dan Yahoo Mail. Koten, komunikasi dan kolaborasi menempati porsi 30% dari total pendapatan pasar SaaS.

Segmen Layanan Cloud Yang Sedang Naik Daun

Sistem periklanan cloud tetap memiliki tingkat pertumbuhan yang cukup besar pada pasar layanan cloud, yang terdiri dari 48% persen dari total pasar pada tahun 2012. Lembaga riset Gartner memprediksi bahwa hingga tahun 2016 sejumlah Rp. 9.000 triliun akan dibelanjkan untuk layanan cloud di seluruh dunia, dimana Rp. 4.133 triliun adalah untuk belanja layanan iklan pada sistem cloud advertising seperti Google, Facebook, Youtube, Adskom, dan sebagainya.

Meskipun ada variasi yang luas antas subsegment pasar layanan cloud, permintaan yang kuat hampir terjadi pada seluruh jenis layanan cloud. Layanan Business Process-as-a-Service (BPaaS) menempati posisi kedua terbesar pada segmen pasar cloud setelah plaftorm periklanan cloud, sebesar 28% persen dari total pasar pada tahun 2012, diikuti oleh layanan aplikasi cloud Software as a Sevice di 14.7 persen, dan sistem cloud layanan infrastruktur on demand (IaaS) sebesar 5.5 persen, manajemen cloud dan layanan kemanan di 2.8 persen dan layanan infrastruktur aplikasi cloud platform (PaaS) 1%.

Segmen pasar layanan cloud IaaS (Infrastructure as a Service) tetap merupakan segmen yang tumbuh paling cepat pada tahun 2016, diperkirakan akan mencapai Rp. 300 triliun. Layanan infrastruktur on demand ini akan menjadi segmen pertumbuhan terkuat menurut Gartner.

Sedangkan untuk layanan cloud Sofware as a Service (SaaS) diperkirakan tumbuh 20.3% pada tahun 2016 dengan nilai nominal sekitar Rp. 502 triliun, dimana para developer software mulai beralih menjual lisensi on demand dari sebelumnya menjual lisensi per tahun atau seumur hidup, kini dapat digunakan untuk per bulan, seperti pada Adobe Web Connect.

Cloud computing menawarkan sumberdaya teknologi informasi (TIK) secara efisien melalui layanan IT on-demand yang didasarkan pada penggunaan aktual para konsumen dari layanan tersebut. Bahkan dalam kasus dimana sebuah data center milik perusahaan tidak seanggup lagi untuk menangani beban kerja IT mereka, maka dengan layanan cloud IaaS atau infrastructure on demand para perusahaan tersebut dapat memenuhi kebutuhan infrastruktur IT secara cepat, untuk sementara waktu sebelum sebuah tambahan atau sebuah Edge Data Center berhasil mereka hadirkan untuk mencukupi kebutuhan tersebut.

Sampai Kapan Trend Pertumbuhan Pasar Cloud Services Tetap Naik ?

Saat ini pasar cloud services sedang memasuki fase baru yang lebih dewasa. Perusahaan akan melihat lebih dekat pada layanan public cloud dengan dasar perspektif bisnis masing-masing. Para manajemen perusahaan akan mencoba untuk mengetahui apakah ada biaya tersembunya yang ditawarkan oleh suatu layanan public cloud atau biaya cloud tersebut memang benar-benar ekonomis.

Windows Azure mulai mendapatkan tempat dipasar developer pada tahun 2013, dengan menerapkan teknik Rapid Application Development (RAD) untuk penyediaan layanan Platform-as-a-Service yang inovatif diman Amazon Web Services (AWS) tidak menawarkan layanan seperti itu (RAD), yang kemudian membuat Google Compute Engine (GCE) sebuah layanan google berbasis cloud mulai meradang dan menyediakan Google’s graphical Cloud9 IDE di awal tahun 2014.

Dengan melihat infografis dibawah ini dapat terlihat jelas bahwa pasar cloud tetap berkembang, namun mulai begeser ke negara-negara di wilayah Asia Pasifik.

Pasar cloud services Indonesia akan terus meningkat

Dengan semakin banyaknya perangkat yang dapat terhubung ke internet pada era internet of things sekarang ini, tentunya layanan cloud semakin banyak dibutuhkan, terutama untuk Infrastructure as a Service (IaaS).

Meskipun pekiran pertumbuhan pasar cloud services secara umum masih cukup tinggi di seluruh wilayah, tingkat adopsi layanan cloud bervariasi pada beberapa negara. Penyedia layanan cloud tidah harus mengasumsikan bahwa strategi generik dpat diterapkan untuk negara-negata tertentu untuk pengukuran hasil, bahkan pada negara dengan karakteristik yang sama. Faktor ekonomi lokal, regulasi, iklim politik, lanskap beragam penyedia layanan cloud global dan local, termasuk penyedia non-cloud, dan faktor-faktor khusus negara lainnya juga memastikan keunikan ketersediaan pasar pada setiap negara dan wilayah.

Peluang Bisnis Cloud Services di Indonesia

Dengan menurunnya CAGR dan dengan memperhatikan kondisi indeks evolusi digital di sautu negara, Indonesia yang merupakan emerging country merupakan pasar potensial untuk berbagai segmen layanan cloud (IaaS, PaaS, SaaS, dan sebagainya), hal inilah yang menjadi dasar penilaian peluang pasar cloud services Indonesia yang di tahun 2016 ini mungkin dapat dimulai sebagai momentum yang baik dengan hadirnya beberapa data center kelas kakap di Indonesia dan data center lokal yang mulai melakukan standarisasi berkelas world class data center.

Disamping itu, dengan hadirnya beberapa perusahaan startup Indonesia yang mulai mendunia maka kebutuhan layanan cloud akan semakin meningkat dengan akan hadirnya sebuah transaksi pertukaran content delivery network antar beberapa negara dengan negara Indonesia, demikian halnya pada perusahaan online asing yang masuk ke Indonesia, tentunya layanan CDN dengan penempatan cache server di Indonesia akan sangat meningkat.

Layanan komputasi awan dapat menjangkau perusahaan kecil dan menengah, dengan investasi yang sangat rendah dan biaya sesuai kebutuhan “pay-as-you-go” memberikan daya tarik tersendiri bagi perusahaan pengembang dan para pengembang aplikasi bisnis atau utilitas.

Komputasi awan telah diterima oleh banyak industri sebagaimana para perusahaan saat ini sangat bergantung pada sumberdaya IT untuk melakukan pekerjaan mereka dari hari-ke-hari yang mana membutuhkan banyak belanja modal untuk infrastruktur IT, sedangkan dengan cloud services CAPEX berubah menjadi OPEX.

Dapat diambil kesimpulan bahwa, pangsa pasar cloud services di Indonesia baru akan dimulai di tahun 2016 ini. Tentunya dengan dukungan para penyedia failitas data center yang memiliki sub layanan Managed IT Services maka beberapa layanan seperti IaaS dan PaaS dapat dimulai segera di adakan di Indonesia

Kriteria Edge Data Center Yang Wajib Diketahui oleh Para CIO
Bagaimana Mengevaluasi Mitra Jasa Outsourcing IT Anda ?
Post Tagged with ,

Comments are closed.