Tips Membuat Migrasi ke Sistem Cloud Menjadi Semakin Mudah

Organisasi di semua industri mencari alternatif untuk membangun dan mengelola data center mereka sendiri. Banyak perusahaan yang berusaha untuk migrasi data center mereka ke sistem cloud untuk meningkatkan kinerja operasional perusahaan. Lantas bagaimana untuk memastikan kesuksesan pada migrasi ke solusi sistem cloud ?

tips migrasi data centerData center telah menjadi tulang punggung operasional perusahaan selama beberapa dekade. Perkembangana teknologi data center telah semakin modern dengan kepadatan infrastruktur yang menggunakan perangkat IT yang lebih kecil, lebih hemat daya dan pendinginan, menghemat kebutuhan ruang fisik dan personil yang lebih sedikit. Selajutnya organisasi terus berusaha mencari alternatif.

Lalu lintas data center meningkat lebih cepat pada lingkungan cloud dari pada di data center tradisional. Hal ini disebabkan karena banyaknya manfaat dari arsitektur cloud dibandingkan data center on-premise.

Beberapa Alasan Perusahaan Lebih Memilih untuk Migrasi ke Sistem Cloud

Ada beberapa alasan mengapa organisasi ingin mengubah – atau bahkan mengeleminasi data center mereka, hal ini merupakan kajian yang menarik untuk di amati.

  • Menghemat Angaran Belanja Modal Perusahaan

    Walaupun harga perangkat IT semakin murah, membangun sebuah data center akan menghabiskan puluhan milyar rupiah. Bahkan ketika data center telah ber-operasi, siklus pembaruan untuk server, storage, jaringan dan peralatan data center lainnya terus memberikan beban keuangan yang lumayan.

  • Menghemat Biaya Listrik dan Pendinginan

    Data center tetap akan mengkonsumsi daya listrik dan pendinginan yang sangat besar, walaupun infrastruktur data center semakin menjadi lebih efisien dari waktu ke waktu. Sistem manajemen pemakaian listrik memang membantu untuk mencegah biaya listrik membengkak dalam beberapa tingkatan, tetapi tidak dapat menghindari kebutuhan listrik data center yang umumnya terus meningkat setiap tahun.

  • Memenuhi Kebijkan Manajemen IT

    Sebagaimana sebuah data center merupakan tempat beberapa perangkat IT dan bertanggung jawab terhadap sistem vital operasional perusahaan, hal ini memberikan tuntutan lebih besar pada staf IT mereka untuk memantau dan mengelola infrastruktur data center. Para personil IT juga harus menangani tugas-tugas penting secara manual yang memakan waktu seperti melakukan patch keamanan, backup dan pemeliharaan.

  • Kebutuhan Kelancaran dan REspon Cepat

    Kurang cepat-tanggap staf IT internal dalam mengakomodir kebutuhan layanan untuk para pengguna diperusahaan dapat menyebabkan meningkatnya rasa frustrasi. Hal ini akan mengarahkan departemen lainnya untuk mengambil tindakan “pro-aktif” yang tidak di otoriasi atau dikenal dengan “Shadow IT“, dimana pengguna akhir menggunakan solusi teknologi mereka sendiri seperti mesin virtual, layanan public cloud, aplikasi pribadi dan lainnya. Ini meningkatkan resiko kemanan pada data center.

Ketika beban kerja dan aplikasi semakin mengarah ke sistem online, dan dengan pertumbuhan volume data yang sangat pesat, performa data center tradisional akan semakin berkurang. Beberapa organisasi telah berusaha untuk mengatasi masalah ini dengan menambahkan data center satelit di kantor cabang mereka. Tapi banyak perusahaan lainnya telah memutuskan untuk mengambil cara lain seperti migrasi aplikasi, migrasi beban kerja dan kadang-kadang bahkan migrasi seluruh data center mereka ke sistem lingkungan hybrid cloud.

Tips Memudahkan Migrasi Data Center ke Sistem Cloud

Memindahkan beban kerja dari data center lokal ke cloud merupakan sebuah tren yang tengah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Awalnya, organisasi cenderung mengalihkan beban kerja seperti VDI, pengujian dan pengembangan, pengarsipan dan email ke lingkungan cloud, hingga akhirnya mereka berusaha untuk meningkatkan Tier data center mereka ke tingkatan yang lebih tinggi.

Era transformasi digital membuat teknologi informasi semakin cepat berubah, bagaimanapun, dengan sistem cloud dapat memberikan kemampuan IT perusahaan dalam menyebarkan dan mengantakan aplikasi serta beberapa layanan di lingkungan hybrid, dengan memanfaatkan yang terbaik dari data center in-house dan fasilitas data center pihak ketiga yang lebih besar.

Migrasi aplikasi dari data center in-house ke sistem cloud bukanlah sebuah tugas yang mudah. Hal ini membutuhkan perencanaan yang luas, ketelitian manajemen proyek dan pemahaman yang tajam terhadap persyaratan unik setiap organisasi baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Ada beberapa langkah penting yang harus diambil oleh setiap organisasi dalam rangka memfasilitasi migrasi data center ke sistem hybrid cloud.

  1. Memiliki Rencana Strategis

    Banyak organisasi memutuskan untuk migrasi data center mereka ke cloud tanpa strategi nyata terhadap apa yang akan mereka lakukan, mengapa mereka ingin melakukannya dan bagaimana mengukur keberhasilan. Rencana ini harus memperhitungkan unsur-unsur seperti aplikasi dan beban kerja, infrastruktur IT, kerangka waktu, evaluasi kriteria mitra dan tanggung jawab manajemen.

  2. Membuat Pilihan Strategis

    Tidak semua aplikasi atau beban kerja harus pindah ke cloud, juga tidak semua aplikasi atau beban kerja harus bermigrasi secara serempak. Mengambil pendekatan bertahap merupakan ide strategis untuk memastikan bahwa beban kerja tidak terganggu selama atau setelah aktfitas migrasi data center ke cloud. Mengidentifikasi aplikasi dan beban kerja mana yang harus dimigrasikan terlebih dahaulu, yang harus dipindahkan kemudian dan mana yang tidak boleh dimigrasi sama sekali memerlukan analisis mendalam teradap bisnis dan masalah teknis.

  3. Perhatikan Hal Ekonomis

    Beberapa biaya data center in-house selalu meninkat setiap tahun, seperti konsumsi listrik, penyimpanan data, bandwidth, jaminan kepatuhan dan keamanan. Dengan mengunakan jasa Outsourcing IT atau Managed Data Center Operational dengan pihak ketiga yang handal dapat membantu organisasi mengurangi Capex melalui biaya bulanan yang ter-ukur. Organisasi harus secara agresif melakukan migrasi infrastruktur atau beban kerja ke sistem cloud pada tingkatan yang signifikan, berdasar analisa penghematan yang dapat dilakukan dengan model hybrid cloud dibandingkan dengan ekspansi lanjutan dengan membuat data center baru.

  4. Mengumpulkan Tim Migrasi

    Sebuah tim migrasi adalah kumpulan individu yang mewakili IT dan pemangku kepentingan bisnis, yang secara kolektif menentukan manfat dari mingrasi aplikasi dan beban kerja ke sistem cloud. Banyak organisasi membuat kesalahan dengan melemparkan tanggung jawab ini kepada tim IT saja, yang dipaksa untuk membuat keputusan sulit mengenai dampak bisnis dari langkah tersebut tanpa masukan yang cukup dari unit-unit bisnis.

  5. Periksa Kompatibilitas

    Hanya karena anda ingin untuk bermigrasi aplikasi atau beban kerja ke lingkungan hybrid cloud tidak berarti hal tersebut akan berjalan pada kinerja yang optimal. Pastikan untuk meluangkan waktu dalam proses pengujian kompatibilitas. Setelah semua, aplikasi termigrasi dari data center in-house yang mungkin dibangun dengan arsitektur 20 tahun yang lalu – mungkin tidak bekerja dengan cara yang sama dalam fasilitas yang dibangun dengan konsep infrastruktur blade server, flash array, 100-gigabit Ethernet switch dan software-defined data center sebagai inti infrastruktur cloud.

  6. Beraksi pada Sandbox

    Semua profesional IT yang akrab dengan konsep sandbox, di mana beban kerja individu atau aplikasi yang dioperasikan di lingkungan pementasan untuk menguji seberapa lingkungan cloud mempengaruhi persyaratan aplikasi utama seperti ketersediaan, kinerja, latency, keamanan dan skalabilitas. Teknik sandbox adalah cara yang bagus untuk memastikan bahwa migrasi skala penuh dapat berlangsung lancar dan andal, tanpa perlu mempengaruhi suatu sistem yang tidak sanggup menghadapi periode downtime walaupun singkat.

  7. Memilih Mitra Konsultan Data Center

    Bermigrasi ke cloud bagi banyak organisasi merupakan sesuatu yang sangat menjanjikan, namun biasanya team IT staff internal memiliki sedikit pengalaman dengan hal ini. Beberapa organisasi mungkin ingin membangun dan mengelola private cloud lokal mereka sendiri, dan sebagian ingin menggantikan sistem data center mereka secara keseluruhan. Ini berarti mengharuskan perusahaan mencari mitra yang dapat dipercaya untuk membantu membuat rencana strategis, menyebarkan dan menjalankan solusi cloud hybrid dengan tetap memilih yang terbaik dari data center yang ada dengan memanfaatkan infrastruktur tersebut dan menggabungkan ke layanan cloud. Pastikan untuk meluangkan waktu anda dalam memilih konsultan data center terpercaya yang dapat anda andalakan. Ingatlah, bahwa memilih mitra merupakan keputusan yang sangat strategis, sebaiknya jangan terburu-buru.

Migrasi data center membutuhkan lebih dari sekedar memutuskan untuk mengadopsi model komputasi baru bagi perusahaan. Hal ini membutuhkan untuk menemukan mitra dengan pengetahuan yang mendalam tentang setiap aspek dari data center, desain infrastruktur dan penyebaran aplikasi dengan kerangka kerja keamanan, pemulihan bencana dan arsitektur terdistribusi seperti private cloud dan hybrid.

KESIMPULAN:

Dengan meningkatnya frekuensi, perusahaan harus membuat keputusan strategis tentang nasib data center mereka. Dalam banyak kasus, pertanyaan kunci yang timbl adalah bagaimana melakukan transisi atau migrasi data center lama mereka ke hybrid cloud.

Perusahaan dapat menggandeng konsultan data center terpercaya sebagai mitra yang selain dapat diandalkan dalam hal teknis, juga dapat memahami kebutuhan bisnis anda, maka proses migrasi data center anda dapat jauh lebih mudah dan terukur keberhasilannya.

Silahkan berdiskusi..

Comments are closed.

Pin It on Pinterest

Share This