Psikologis Cicilan dan Hubungannya Dengan Pendapatan Berulang (MMR)

Cicilan merupakan kemudahan untuk kepemilikan. Sedangkan untuk kebergunaan suatu produk atau jasa, istilah Month-over-Month-Revenue (MMR) lebih banyak di pakai. Hubungan antara cicilan dan pendapat bulanan berulang (MMR) terletak pada psikologis cicilan. Hal ini dapat mengubah pengeluaran modal perusahaan (Capital Expenditure, CapEx) menjadi biaya operasional usaha (OpEx).

Konsep On Demand Sebagai Terobosan Bisnis Terbaru

Psikologis Cicilan Berpengaruh Pada Pelaku Bisnis dalam Membuat Keputusan

Sebagai prinsip ekonomi dimana biaya harus di tekan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya, maka keuangan akan lebih mudah di kendalikan dengan menghindari CapEx sebisa mungkin. Ini akan membawa perubahan cara perusahaan di tahun 2017 dalam menawarkan produk / jasa/

Dalam mengemas distribusi ke pelanggan, psikologis cicilan berguna untuk strategi perusahaan dalam memasarkan produk / jasa di era transformasi digital ini. Hal ini sudah dapat kita lihat pada beberapa produk teknologi informasi seperti Microsoft Office dengan MS. Office 365. Microsoft yang sebelumnya menjual putus license MS. Office kini mulai mnawarkan sistem berlangganan tiap bulan.

Jika kita bandingkan antara perusahaan yang berhasil merubah cara mereka dalam menjual produk dengan yang masih memakai sistem konvensional, maka sudah barang tentu pada segmen pasar horisontal akan lebih cepat perputarannya pada konsep MMR seperti yang diterapkan oleh Microsoft.

Cara ini akan semakin mewarnai penawaran produk di tahun 2017. Kita dapat bayangkan, jika ada produk real seperti mesin kopi untuk perkantoran yang dapat di bayar per bulan. Dimana mesin kopi tersebut memiliki modul IoT yang dapat memberitahu jika persediaan kopi habis atau mesin perlu perawatan. Ini tentunya juga dapat berlaku pada perangkat komputer dan jaringan.

Apalagi jika kewirausahaan di suatu negara bergerak meningkat, dimana banyak pelaku bisnis pemula (startup) yang sangat membutuhkan cara untuk menekan pengeluaran modal mereka, agar mereka dapat bersaing sejajar dengan perusahaan besar. Dan pada kenyataannya, banyak perusahaan startup yang di juluki Startup Rocket sudah mulai ‘melibas petahana’ atau perusahaan besar.

Skema Cicilan Menjadi Inspirasi “On Demand” atau “Bayar Sepakainya”

Bagi para praktisi dunia teknologi informasi, tentunya sudah akrab dengan istilah “on demand”. Namun tidak semua skema on-demand ini cocok untuk semua kalangan. Seperti pada bisnis cloud yang di perkirakan akan menyentuh nilai Rp. 3000 triliun di tahun 2020. Layanan cloud dengan kemampuan auto scaling sangat menarik minat para perusahaan startup. Demikian perusahaan besar, dengan penawaran yang cendrung over-provisioning sejak tahun 2015 hingga 2016 kemarin, banyak perusahaan besar berpindah dari data center bare-metal-server ke cloud data center.

Perusahaan yang memakai cloud dalam skala besar, kini mulai merasa mahalnya biaya cloud yang awalnya mereka anggap murah. Demikian para perusahaan startup yang mulai stabil bisnisnya, mereka mulai memindahkan sebagian beban kerja komputasi mereka ke colocation center. Ternyata, biaya cloud dengan model on demand ini memiliki perbandingan lurus.

Menurut para praktisi dan peneliti dunia di teknologi informasi sekarang ini, untuk skala tertentu sistem konvensional lebih hemat ketimbang sistem on demand. Ini artinya, sistem on demand akan efektif untuk pasar horizontal, bukan untuk segmen vertikal.

perbandingan antara cloud on demand dan colocation server

ketika biaya data anda menurun lebih cepat dari biaya kepemilikan hardware, solusi jangka panjangnya adalah dengan mengadopsi konsep hybrid. (Sumber: http://ivory.idyll.org/blog/cloud-not-the-solution.html)

Dari sisi pengguna, tentu sistem on demand akan lebih mahal sebetulnya, dan sebaliknya dari pelaku usaha akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Menurut para ahli, untuk berubah ke konsep MMR ini perusahaan memerlukan waktu 1-2 tahun kedepan.

Contoh sukses konsep on demand ini dapat kita lihat telah di terapkan oleh para operator telekomunikasi dan langgan TV berbayar di Indonesia. Juga sebuah bisnis agen travel seperti Dwidaya Tour yang mulai melakukan transformasi digital dengan merangkul Hybrid Channel (campuran beberapa saluran pemasaran, Majalah SWA 19 Januari 2017).

Segmentasi Untuk Konsep Pendapatan Bulanan Berulang (MMR)

Untuk skala UKM mungkin sistem on demand atau pun MMR dalam bentuk lainnya lebih sesuai di terapkan. Apalagi untuk pasar konsumen akhir. Namun untuk dapat menerapkan konsep ini, memerlukan sebuah transformasi digital yang dilakukan dengan pemahaman yang benar.

Ada banyak kesalahan persepsi mengenai transformasi digital yang beredar di kalangan profesional. Contohnya, masih banyak pelaku bisnis dan para CEO yang menanggap  jika sudah memakai SAP / ERP maka mereka sudah bertransformasi digital dan gagal paham dengan teknologi aplikasi mobile.

Dengan pemahaman transformasi digital yang benar, yakni inovasi dan peningkatan kualitas aplikasi serta layanan yang memudahkan pelanggan maka konsep MMR ini dapat berhasil sekaligus sebagai upaya untuk menjadi pemimpin pasar.

Skema cicilan berbunga akan mulai di tinggalkan kedepannya, begitu konsep MMR ini sudah banyak masuk ke banyak produk dan jasa yang beredar. Prinsip psikologis cicilan lebih mengena dan cocok untuk pasar horizontal di Indonesia. Oleh karena itu, ada baiknya para pimpinan perusahaan mulai memikirkan terobosan baru di tahun 2017 ini yang dimulai dari transformasi digital.

Kami akan sangat senang sekali berdiskusi dengan para praktisi baik di pemerintahan maupun di perusahaan swasta melalui reply comment dibawah ini.

Silahkan berdiskusi..

Comments are closed.

Pin It on Pinterest

Share This