tren konsumen online 2019

10 Tren Konsumen Online 2019 Yang Wajib Anda Ketahui

Sebuah Firma Riset Pasar telah menerbitkan laporan mengenai 10 tren konsumen online teratas tahun 2019 di seluruh dunia. FashionUnited merangkumnya di bawah ini.

10 Tren Konsumen Online 2019

Beberapa perilaku konsumen online ini sebetulnya telah terlihat sejak tahun 2016. Hanya saja, untuk di Indonesia ini akan mulai lebih terasa di tahun 2019 ini. Tren konsumen online 2019 ini sangat penting untuk diketahui oleh para praktisi pemasaran di Indonesia.

1. Semua orang menjadi ahli

Konsumen menjadi semakin lebih bijaksana dalam pembelian. Sementara di masa lalu, mereka hanya bisa mengandalkan sejumlah sumber terbatas untuk mendapatkan inspirasi belanja dan informasi tentang produk yang mereka minati, sekarang ada banyak sumber secara online. Mungkin bahkan terlalu banyak.

Ulasan, forum, tutorial, dan media sosial contohnya. Akibatnya, dinamika kekuatan antara bisnis ritel dan konsumen berubah. Hal ini mengharuskan perusahaan untuk “terus berinovasi, turunkan harga, merampingkan dan memberikan estetika penawaran mereka” untuk tetap relevan dan menarik pembeli.

Perkataan “pelanggan selalu benar” dan “tidak ada iklan yang lebih baik dari mulut ke mulut” semakin terasa kuat. 84% konsumen online akan melakukan pembelian setelah membaca review, melihat referensi dari pihak lain, atau melihat testimoni dari orang lain.

2. Kemandirian

Ketika informasi tentang apa pun hanya berjarak beberapa klik saja, konsumen tidak dapat membantu tetapi merasa seperti mereka tidak perlu berkonsultasi kepada jasa profesional untuk membuat keputusan mengenai lemari pakaian, diet, kebugaran, desain interior, dan sebagainya. Singkatnya, mereka memotong orang tengah. Dalam proses ini, banyak orang merasa bahwa penawaran pasar massal bukanlah solusi terbaik bagi mereka.

Oleh karena itu banyak bisnis yang beralih ke aplikasi dan layanan yang dipersonalisasi untuk menciptakan produk unik yang sesuai dengan preferensi mereka. Dengan cara ini, mereka tidak harus terus-menerus terlibat dengan pemasaran merek – sesuatu yang sebenarnya mereka sudah bosan, seperti yang ditunjukkan oleh popularitas layanan pemblokiran iklan.

Perusahaan pakaian di Kanada yang menjual pakaian yang dibuat secara online, adalah contoh yang baik. Pembeli harus melakukan pengukuran sendiri sebelum memesan. Pembeli dapat memilih dari berbagai pilihan warna kerah,  saku, pelapis dan warna kancing. Masing-masing dari 500.000 pakaian yang akan mereka kirim adalah unik. Ini merupakan cara beradaptasi yang tepat agar bisnis dapat mengikuti tren konsumen online di tahun 2019 dan tahun-tahun mendatang.

3. Kesegeraan

Konsumen millennials dan Gen-Z sering dituduh tidak sabar dan memiliki rentang perhatian yang pendek. Namun, menurut sebuah laporan dari konsultan penelitian pasar, ada lebih banyak kecendrungan pada sikap “Aku ingin sekarang” daripada sekadar mencari kepuasan instan.

Di zaman sekarang ini, semua orang sibuk dan waktu adalah sebuah kemewahan. Itulah sebabnya begitu banyak konsumen mencari “pengalaman tanpa gesekan yang sesuai dengan gaya hidup mereka”. Secara psikologis, pengalaman tersebut memungkinkan mereka untuk mendedikasikan lebih banyak waktu untuk kehidupan profesional atau sosial mereka.

Akibatnya, kecepatan telah menjadi faktor penting bagi kesuksesan bisnis ritel.

Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan toko-toko fashion online yang terus-menerus menambahkan lebih banyak produk. Mereka tampil lebih baik daripada yang dianggap lebih bergaya.

Kecepatan pengiriman sama pentingnya: sebuah penelitian yang diterbitkan bulan lalu oleh eMarketer mengungkapkan kenaikan 59 persen pembeli yang mengharapkan pengecer menawarkan pengiriman yang di hari yang sama atau hari berikutnya, dibandingkan tahun sebelumnya. Pengecer offline diharapkan lebih efisien juga, ini menjelaskan mengapa Amazon telah meluncurkan toko fisik tanpa kasir bernama Amazon Go.

Contoh lain dari merek fesyen yang melayani kebutuhan konsumen yang peduli dengan kecepatan adalah “”lihat sekarang, beli sekarang”: konsumen tidak perlu lagi menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan barang yang mereka lihat. Intinya, model penjualan “pre order” sudah semakin tidak relevan.

4. Kembali ke dasar untuk status

Dengan begitu banyak pilihan untuk dipilih, banyak konsumen mengalami mabuk materialisme. Mereka ingin “menyederhanakan”, “detoksifikasi” dan “merealisasikan” kehidupan mereka. Sebuah konsultan di Jepang, penulis buku terlaris di seluruh dunia, mungkin merupakan salah satu tanda terbesar dari tren ini. Kondo menyarankan orang untuk hanya menyimpan barang-barang yang “memicu kebahagiaan mereka”.

Dalam konteks seperti itu, produk yang diposisikan sebagai “minimalis”, “kerajinan” atau “kembali ke dasar” menjadi simbol status baru. Ini adalah cara baru untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Anda canggih dan unik. Lihat maraknya kerajinan, tukang cukur “jadul”, kosmetik alami, restoran dan supermarket yang menawarkan makanan segar, organik, dan hiperlokal.

Ini tidak berbeda dalam dunia mode. Tahun lalu kami melihat sejumlah merek mewah mengubah logo mereka, termasuk Burberry, Balmain dan Celine. Pilihan mereka untuk font minimalis dan garis lurus bukan tanpa alasan: kemewahan baru itu adalah kesederhanaan.

5. Selamat tinggal, plastik!

Para peneliti memprediksi konsumen akan semakin memprotes penggunaan plastik yang berlebihan. Kemasan plastik sekali pakai semakin disukai, seperti alat pemotong plastik sekali pakai dan microbeads plastik dalam kosmetik. Saat ini, 63% kemasan di dunia terbuat dari plastik, yang menunjukkan perusahaan perlu mengambil langkah signifikan untuk mempertahankan pelanggan mereka.

Industri mode telah mengambil banyak inisiatif untuk mengurangi limbah plastik dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah koleksi pakaian yang terbuat dari botol plastik daur ulang tersedia di pasar, dari merek-merek seperti Everlane, Patagonia, C&A dan H&M.

Selain itu, lebih dari 290 perusahaan yang mewakili 20 persen dari semua kemasan plastik yang diproduksi secara global telah menandatangani komitmen global untuk mengakhiri limbah plastik dan polusi di sumbernya tahun lalu. Ini termasuk pengecer dan merek fesyen seperti H&M, Walmart, Burberry, Target dan Marks & Spencer.

6. Konsumen yang semakin sadar

Bukan hanya plastik yang dikhawatirkan konsumen. Perlakuan perusahaan terhadap hewan dan kondisi kerja di seluruh rantai pasokan juga menjadi perhatian para konsumen online. Sementara gaya hidup vegan sedang meningkat, para peneliti pemasaran memprediksi bahwa konsumen non-vegan bersiap untuk mengadopsi perilaku yang lebih ramah terhadap hewan.

7. JOMO: sukacita karena melawati sesuatu hal

Anda mungkin pernah mendengar akronim FOMO atau Fear Of Missing Out, yang berarti “takut ketinggalan”. Penelitian menunjukkan adanya perubahan pada tren konsumen online di 2019. Para konsumen tidak terlalu peduli lagi dengan penawaran “Besok Harga Naik” ataupun “Flash Sale”.

Ini sekali lagi membuktikan bahwa orang-orang semakin lelah dibombardir dengan informasi baru, dan juga batas-batas yang kabur antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Kemudian, sebuah akronim baru mulai menonjol: JOMO atau Joy Of Missing Out, “kepuasan karena melewati”. Karena terlalu jenuh dengan penawaran FOMO, para konsumen tidak perduli dan mulai merasa senang karena penawaran tersebut sudah lewat. Mungkin apa yang dapat menggambarkan fenomena ini adalah seperti kata orang Betawi “Bodo Amat”.

Konsumen semakin mencari cara untuk melindungi kesehatan mental mereka dengan menjadi lebih selektif dalam kegiatan mereka. Semakin banyak orang yang mengurangi waktu online mereka, meninggalkan jejaring sosial, memutuskan koneksi internet sepenuhnya untuk jangka waktu tertentu atau mengganti smartphone mereka menjadi ponsel flip vintage.

8. Secara digital bersama

Selama dekade terakhir, komunikasi online telah berkembang sangat pesat. Obrolan teks dan video, kolaborasi dokumen real-time, pertemuan virtual dengan peserta di seluruh dunia. Karena semakin banyak orang memiliki akses ke Internet berkecepatan tinggi, berbagai hal yang dapat kita lakukan bersama secara digital diperkirakan akan semakin meningkat. Kita dapat mengharapkan interaksi tersebut menjadi lebih seperti kehidupan.

Merek akan bereaksi terhadap perilaku berbagi aktif ini dengan menghadirkan produk dan layanan berdasarkan kecerdasan buatan, realitas virtual, dan analitik prediktif. Kita bisa lihat banyak bisnis co-working space yang ramai pengunjung dibanding sebuah cafe. Ini termasuk salah satu fenomena dari perubahan tren konsumen online di tahun 2019.

9. Hidup kesepian

Meskipun teknologi membantu kita berinteraksi bahkan dengan orang-orang yang tinggal bermil-mil jauhnya, kita tidak pernah sendirian. Sementara baby boomer dikenal dengan tingkat perceraian yang tinggi, orang-orang muda menolak pernikahan dan lebih suka “kumpul kebo”.

Diperkirakan bahwa jumlah rumah tangga satu orang akan meningkat sekitar 120 juta pada tahun 2030, naik sekitar 30 persen pada tahun 2018. 

Apa artinya? Lebih sedikit anak-anak, lebih banyak penghasilan. Akan semakin banyak orang dewasa menggunakan waktu luang mereka untuk bepergian, belajar dan bersenang-senang. Sejumlah besar orang lebih suka tinggal di daerah perkotaan yang lebih padat, daripada pindah ke pinggiran kota pada usia tertentu.

Hal lain yang harus dipertimbangkan bisnis ritel adalah bahwa orang yang hidup sendiri memprioritaskan kenyamanan dan keterjangkauan, karena mereka menanggung biaya penuh perumahan dan utilitas. Pakaian yang cepat kering dan tidak membutuhkan penyetrikaan, misalnya, cenderung mendapatkan preferensi mereka.

10. Tidak peduli usia

Umur hanyalah angka, bukan? ini merupakan hal yang populer di kalangan baby boomer (1946-1964). Terutama di negara-negara kaya, di mana orang memiliki akses ke perawatan kesehatan dan kondisi kehidupan yang baik, generasi yang lebih tua merasa, berperilaku dan ingin diperlakukan sebagai yang lebih muda.

Ingatlah bahwa populasi menua di mana-mana, tidak hanya di negara-negara Barat: di Jepang, misalnya, pada tahun 2025 separuh populasi akan berusia lebih dari 50 tahun. Oleh karena itu, produk yang dirancang agar dapat diterima secara universal.

Bagaimana Tren Konsumen Online Di Tahun 2020?

Khususnya untuk di Indonesia, tidak akan berubah banyak dari tahun 2019. Memang ada pergeseran pola perilaku konsumen. Namun, intinya adalah kecepatan, personalisasi dan konsumen semakin bijak dalam pembelian atau pengeluaran uang.

“Pengalaman” merupakan suatu kata ajaib untuk para pemasar. Bahkan restoran yang memasarkan “Pengalaman” ketimbang menu makanan andalan dapat lebih banyak kunjungan. Oleh karena itu, para pemasar harus mulai memahami bagaimana cara pemasaran online termasuk untuk bisnis offline.

Demikian untuk bisnis perhotelan, semakin banyak kita melihat hotel yang menawarkan pengalaman secara virtual untuk menarik minat pengunjung.

Bisnis hari ini dituntut untuk dapat cepat beradaptasi pada perubahan tren perilaku konsumen yang semakin digital. Jadi, kegiatan pemasaran tidak hanya sekedar branding membranding saja, pendekatan tersebut sudah semakin usang. Apa yang perlu dilakukan adalah menawarkan pengalaman pada konsumen (yang juga dapat dilakukan sekaligus branding).

Kesimpulannya adalah, tren konsumen online yang ada di tahun 2019 ini dapat menjadi dasar pertimbangan pada pendekatan produk, inovasi dan pemasaran.