Potensi Bisnis Pencadangan Data Untuk UKM Cukup Menggiurkan

Dalam dunia vertikal, kita mungkin jarang sekali membahas pola pendapatan perbulan yang lebih lancar. Sistem pendapat per bulan yang berulang merupakan suatu konsep yang semakin di lirik oleh penyedia data center di Indonesia. Potensi bisnis pencadangan data ini di dukung dengan prediksi pembelanjaan cloud di 2020 yang di perkirakan akan mencapai Rp. 3000 triliun dalam setahun.

Potensi Bisnis Pencadangan Data Untuk UKM

UKM lebih merupakan pasar horisontal. Di Indonesia sudah terdapat ratusan ribu usaha UKM yang tersebar dari sabang hingga merauke. Demikian pengguna internet Indonesia yang sudah mencapai 130 juta pengguna atau sudah mencapai setengah populasi penduduk. Tentunya ada suatu pasar besar yang dapat di garap sehubungan dengan evolusi digital di Indonesia ini.

Dasar Kebutuhan Pencadangan Data untuk Bisnis UKM

Transformasi digital saat ini di Indonesia sudah mencakup pengusaha UKM. Mereka lebih banyak melakukan operasional melalui internet. Baik dengan desktop maupun mobile, seluruh transaksi bisnis dapat di catat secara otomatis pada era transformasi digital ini. Hal ini dapat memberikan penghematan luar biasa bagi para pengusaha UKM.

Misal, sebuah usaha penjualan baju yang melakukan transaksi secara manual, harus menyediakan 1 sampai 3 orang admin untuk melakukan hal tersebut. Dengan sistem yang mendukung untuk transformasi digital, seluruh laporan tersebut dapat di ekspor ke PC/Notebook. Sehingga, karyawna admin yang ada dapat mengerjakan pekerjaan rutin lainnya yang lebih penting. Sejatinya, transformasi digital adalah proses otomatisasi yang memudahkan karyawan dan pelanggan.

Namun, ada satu masalah yang tetap mengintai, seperti terjadinya kerusakan sistem pada aplikasi ataupun kerusakan pada perangkat keras yang digunakan oleh para karyawan. Hal ini akan menyebabkan operasional harus berputar kembali untuk memulihkan sistem, data dan melakukan rekonsiliasi pencatatan. Hal ini terjadi hampir di seluruh bisnis, tidak ada yang kebal terhadap downtime karena perangkat keras juga memiliki usia pakai.

Oleh karena itu, setiap bisnis wajib memiliki sistem pencadangan untuk menjaga kelancaran operasional mereka. Sebab, bencana seperti yang di paarkan di atas tidak dapat di prediksi dan sekali lagi tidak ada yang kebal. Kecepatan perusahaan dalam memulihkan operasional bisnis jika terjadi hal tersebut, merupakan salah satu faktor keunggulan kompetitif.

Potensi Bisnis Pencadangan Data untuk Bisnis UKM

Jika di Indonesia terdapat 100.000 bisnis UKM, dimana setiap perusahaan tersebut terdapat rata-rata 10 orang karyawan yang memakai notebook / PC maka akan terdapat 1 juta perangkat yang harus memiliki pencadangan data secara otomatis. Sehingga, ketika terjadi kerusakan hardware atau software, mereka dapat lebih cepat untuk kembali pada operasional normal. Potensi bisnis pencadangan data cukup besar jika kita lihat dari sini.

Berdasarkan data yang dihasilkan, jika rata-rata kebutuhan pencadangan data penting hanya 50 GB per tahun untuk 1 perusahaan, maka potensi bisnis pencadangan data ini akan mencakup 5 juta GB per tahun. Ini artinya data center Indonesia harus memiliki 5.000 storage yang tersebar pada beberapa data center. Saat ini dari 17 data center Indonesia yang layak digunakan untuk Disaster Recovery Center baru berkisar 5 perusahaan penyedia data center saja. Artinya setiap perusahaan data center tersebut dapat memuat 1000 storage server.

Biaya yang dikenakan ke pelanggan UKM dapat berkisar Rp. 1.5 juta per tahun atau Rp. 125.000 per bulan. Tentunya biaya ini sangat murah bagi para pelaku UKM, dimana mereka dapat membayar biaya tersebut per bulan. Biaya pencadangan data tersebut dalam kurun waktu 3 tahun akan jauh lebih murah ketimbang gangguan yang di alami jika tidak ada pencadangan data. Ini dapat kita ambil dasar dari rata-rata umumr pemakaian perangkat hardware.

Total potensi pendapatan dari bisnis pencadangan data ini dapat kita kalikan : Rp. 125.000 per bulan x 100.000 UKM. Hasilnya Rp. 12.5 milyar per bulan, dan pendapatan ini berulang terus tiap bulan. Pelanggan baru berdatangan dan mungkin ada pelanggan lain yang lari ke pesaing yang lbih murah. Oleh karena itu diperlukan suatu asosiasi untuk mengatur penerapan harga ini akan layanan tidak menurun. Jika layanan bisnis pencadangan data menurun, maka yang dirugikan adalah konsumen.

Perbedaan Pencadangan Cloud dengan Eksternal Hard Disk

Kita bisa saja menggunakan sistem pencadangan sendiri, akan tetapi tetap perangkat tersebut juga memiliki umur pakai. Sehingga jika storage back up (biasanya berupa eksternal hard drive) tersebut rusak, maka data pun hilang atau recovery data dan ini memakan biaya jutaan rupiah juga selain waktu yang lama.

Bedanya dengan Cloud DRaaS (Disaster Revocery as a Service), anda tidak perlu khawatir cadangan data anda hilang. Karena sebuah data center yang berdiri khusus sebagai situs DRC akan selalu di audit oleh badan-badan internasional untuk memastikan kelancaran operasional mereka. Anda tidak perlu membeli hard disk eksternal, yang anda perlukan hanyalah sebuah koneksi internet.

Tahun 2017 Era Transformasi Digital Yang Semakin Banyak Serangan Cyber

Perlu kita garis bawahi disini, serangan cyber semakin meningkat. Baik pada perangkat mobile maupun desktop, serangan cyber semakin canggih dan mengkhawatirkan, terutama untuk jasa perbankan. Sebuah malware dapat merusak data anda, dan sebuah ransomware dapat ‘mengunci’ data anda sehingga tidak bisa di akses.

Saya pernah mengalami terkena ransomware. Seluruh data saya terkunci, dan tidak ada peluang untuk di kembalikan kecuali membawa notebook ke reparasi untuk di recover data-datanya. Kejadian tersebut sudah merogoh kocek saya sebesar Rp. 1.5 juta. Akan lebih baik jika saya memiliki pencadangan data di cloud, sehingga saya hanya perlu melakukan format ulang notebook dan mendownload data di cloud ke notebook saya dimana dapat membuat foldernya secara otomatis.

Oleh karena itu, perusahaan UKM sebaiknya mulai menggunakan jasa pencadangan data. Terutama untuk para konsultan pajak, dimana banyak sekali laporan yang harus di cadangkan. Sebab, jika data tersebut rusak atau tidak dapat di akses, maka urusan akan menjadi bertambah rumit.

Bagi para penyedia data center, potensi bisnis pencadangan data ini cukup menggiurkan. Anda dapat mempersiapkan sebuah sistem cloud backup dan perlu merintisnya dalam 2 tahun kedepan. Jika tidak dimulai dari sekarang maka di tahun 2020 saat pembelanjaan cloud meningkat ke Rp. 3000 triliun per tahun maka anda akan kehilangan momentum tersebut.

Silahkan berdiskusi..
Teknologi HyperLedger Perlu Diketahui Oleh Para Pengembang
Situs Marketplace Terkena Downtime, Apa Dampaknya ?

Comments are closed.