Sudahkah Anda Menghitung Downtime Pada Jam Operasional ?

Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, downtime atau kegagalan sistem aplikasi kritis di perusahaan anda sudah bukan menjadi suatu pilihan. Ada banyak cara untuk mengatasi downtime, namun anda perlu menghitung downtime pada jam operasional.

Sudahkah Anda Menghitung Downtime Pada Jam Operasional

Manfaat Menghitung Downtime Pada Jam Operasional

Pada umumnya, jam operasional selama satu tahun adalah 2.700 jam. Dengan peralatan sensor seperti Nagios. Anda dapat mengetahui berapa jam downtime pada tiap-tiap sensor. Ini akan lebih memudahkan anda dalam menghitung jumlah downtime dalam satuan jam sepanjang waktu.

Akhir tahun 2016 ini, sebaiknya setiap perusahaan telah berhasil menghitung downtime. Dengan memperhatikan grafik sensor yang berada di bawah, mengenali kejadian, dan sebagainya maka anda akan lebih mudah menentukan penanganan untuk downtime tersebut.

Jika anda belum menghitung downtime pada jam operasional, maka sebaiknya anda menempatkan anggaran cadangan untuk hal tak terduga. Salah satu manfaat terpenting dalam menghitung jumlah downtime ini adalah anda dapat mengukur potensi biaya akibat downtime tersebut. Sehingga manajemen dapat lebih berdasar dalam mengambil langkah-langkah untuk menangani downtime.

Kita bisa bayangkan para pimpinan perusahaan yang tidak mengetahui jumlah downtime pada jam operasional, dan masih terheran-heran mengapa kinerja pelayanan dan operasional mereka terus merosot dari tahun ke tahun. Hal ini memang disebabkan karena, kegagalan sistem dan seluruh pemulihannya tidak di hitung sebagai biaya downtime.

Dalam akuntansi, kita mengenal adanya pos antisipasi / pos cadangan. Dan biaya downtime ini yang sebelumnya intangible akan semakin terlihat jelas dampaknya di tahun 2017 ini. Tahun 2017, transaksi digital di Indonesia akan terus mengalami peningkatan. Hal ini dapat di konfirmasi dari paket kebijakan pemerintah, jumlah pengguna internet, teknologi keuangan seperti Fintech yang memudahakan orang untuk bertransaksi, dan juga meningkatnya infrastruktur teknologi informasi di Indonesia.

Dalam bisnis, sebetulnya menghitung downtime pada jam operasional merupakan salah satu cara awal dalam meningkatkan efisiensi dan efektifitas. Tanpa pengukuran potensi kerugian downtime, suatu manajemen yang membahas peningkatan efisiensi dan efektifitas di tahun 2017 dapat mengaburkan keseluruhan perencanaan dan strategi perusahaan.

Biaya downtime sudah di teliti di seluruh dunia, dan cukup besar serta tidak dapat terduga hanya dapat di cegah dan di atasi jika terjadi.

Kegagalan Sistem Akan Banyak Dialami Perusahaan Besar di Indonesia

Kegagalan sistem tidak dapat diprediksi, namun seiring dengan perkembangan teknologi digital maka perusahaan di Indonesia akan berlomba dalam inovasi digital untuk memberikan layanan yang lebih mudah dan lebih cepat, dan dapat dilakukan dari mana saja. Dalam hal ini, release aplikasi atau fitur dari yang sudah berjalan dapat mengakibatkan kelumpuhan sistem jika ada versi yang tidak cocok.

Sebetulnya dengan konsep DevOps dan menggunakan teknik-teknik orkestrasi kontainer yang baik, seharusnya rilis aplikasi atau fitur tidak akan menyebabkan kegagalan sistem. Sayangnya penyerapan DevOps di ASEAN termasuk di Indonesia cukup lambat.

Dengan kondisi tersebut diatas, maka akan banyak perusahaan di Indonesia yang mengalami kegagalan sistem. Hal ini disebabkan karena belum memakai kerangka kerja kontainer terisolasi yang dapat memberikan gambaran lingkungan live pada para pengembang. Pengembang seharusnya diberikan fasilitas live testing dan automated testing, dan operasional seharusnya juga dapat melihat keseluruhan test tersebut. Ini dapat mempercepat pengadaan modifikasi, fitur baru, modul baru dalam meningkatkan pelayanan ke pelanggan dan meningkatkan kinerja operasional karyawan. Jika ini tidak diterapkan maka kegagalan sitem akan terus menjadi bayangan buruk di perusahaan anda.

Bagi perusahaan yang belum implementasikan DevOps, sebaiknya mereka mencadangkan keseluruhan sistem dan data pada sebuah situs eksternal. Ini merupakan salah satu alasan kenapa Solusi Pemulihan Bencana akan semakin banyak dibutuhkan oleh perusahaan di Indonesia. Oleh karena itu, menghitung downtime pada jam operasional merupakan langkah awal strategis.

Di Tahun 2017 ini, kita mengharapkan adanya sebuah infrastruktur komputasi awan (cloud ifnrastructure) yang kuat di Indonesia. Hal ini bertujuan agar perusahaan yang belum mengimplentasikan pola kerja DevOps dapat menggunakan Disaster Recovery as a Solutions atau yang sering disingkat dengan DRaaS.  Dan kabar baiknya, sebuah perusahaan data center Tier III yang bekerjasama dengan teknologi cloud dari perusahaan Jepang di Indonesia telah memulai hal ini. Tentu ini dapat menghemat biaya investasi perusahaan dalam mengadakan solusi mitigasi dan pemulihan bencana.

Mengukur Biaya Downtime

Dalam sebuah manajemen bisnis yang solid, tentunya mengukur biaya downtime merupakan hal utama yang mereka lakukan sebelum menganggarkan suatu pengadaan. Dalam mengukur biaya downtime tentunya harus mengetahui berapa jumlah downtime dalam setahun.

Ada beberapa faktor pengukuran biaya downtime, namun sebelumnya perlu kita ketahui beberapa latar belakang pengukuran biaya downtime ini. (Sumber : https://devops.com/real-cost-downtime/)

  • Untuk 1000 Perusahaan terbesar di dunia. Total biaya rata-rata atas kejadian kegagalan sistem tak terduga dapat menyebabkan kerugian / biaya sebesar USD 1.2 milyar hingga USD 2.5 milyar (Rp. 15.6 Triliun hingga Rp. 31 Triliun) dalam setahun.
  • Total biaya rata-rata downtime per jam akibat adanya salah satu perangkat infrastruktur yang tidak berfungsi adalah sebesar USD 100.000 (Rp. 1.3 milyar) per jam.
  • Total biaya downtime per jam akibat kegagalan sistem pada aplikasi kritis mencapai USD 500.000 hingga USD 1 juta (Rp. 6.5 milyar hingga Rp. 13 milyar).

Dari gambaran tersebut diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa biaya downtime per jam berkisar antara Rp. 1 Milyar hingga 13 milyar. Tentunya ini dapat berbeda pada setiap bisnis.

Contoh Menghitung Biaya Downtime untuk Masing-masing Perusahaan

  • Jumlah jam kerja Operasional yang melibatkan infrastruktur IT
  • Omset per tahun
  • Jumlah karyawan yang terkena dampak downtime, karena ini dapat menyebabkan inefisiensi dalam hal biaya SDM.

Contoh kasus:

  • Perusahaan A memiliki jam kerja operasional 2700 jam dalam setahun
  • Omset Perusahaan A adalah sebesar Rp. 100 milyar per tahun
  • Maka potensi kerugian downtime per jam adalah Rp. 37 juta
  • Karyawan yang dapat terkena dampak downtime adalah 100 orang dengan rata-rata gaji adalah sebesar Rp. 5 juta pe rbulan.
  • Maka potensi biaya downtime dari sisi SDM adalah Rp. 2jt, sehingga total potensi biaya downtime perusahaan A per jam adalah Rp. 39jt.

Sekarang, jika anda telah berhasil mendapatkan berapa jumlah jam downtime selama jam operasional, tinggal mengkalikan biaya downtime per jam tersebut diatas. Jika 20 jam dalam setahun artinya anda memiliki potensi kerugian downtime sebesar Rp. 800jt.

Selain biaya downtime, dalam mengukur potensi biaya downtime para pimpinan manajemen harus dapat mengukur biaya pemulihan. Seperti tenaga ahli, biaya konsultan dan sebagainya harus dimasukkan dalam pengukuran biaya downtime. Dan ini akan tetap bersifat intangible, oleh karena itu pengukuran tersebut harus berdasar data historis dan disesuaikan mengikuti trend.

Solusi Mengatasi Downtime

Disaster Recovery merupakan sebuah solusi wajib bagi perusahaan yang ingin meningkatkan efisiensi biaya dan efektivitas usaha dan operasional. Banyak perusahaan menawarkan cloud disaster recovery namun anda harus mengetahui infrastruktur data center di belakang mereka. Jika layanan cloud tersebut memakai Tier I / II data center maka akan sulit diharapkan jika terjadi downtime anda dapat segera mengalihkan operasional ke situs sementara tersebut.

Idealnya, sebuah fail over dapat di alihkan ke sistem cadangan maksimal dalam waktu 15 menit. Sehingga ini dapat menurunkan jumlah jam downtime anda.

Solusi mencegah dan mengatasi downtime adalah suatu hal yang berbeda. Mencegah, berarti anda mempersiapkan lingkungan DevOps di perusahaan anda. Mengatasi, berarti anda menyiapkan sebuah pencadangan keseluruhan sistem dan data. Dalam mencegah downtime anda dapat menggandeng sebuah perusahaan konsultan IT di Indonesia yang ahli dalam menerapkan konsep DevOps untuk orkestrasi infrastruktur dan kontainer aplikasi.

Silahkan berdiskusi..

Comments are closed.

Pin It on Pinterest

Share This