Akankah Bursa Efek Indonesia Senasib Dengan Bursa SGX ?

Pada pertengahan Juli tahun 2016, bursa efek Singapura – Singapore Stock Exchange (SGX) mengalami downtime. Walaupun downtime tersebut tidak terlalu lama namun transaksi hilang sekitar 372 juta dolar Singapura. Ini merupakan studi menarik untuk dikaji oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam hal penerapan pemulihan bencana.

Akankah Bursa Efek Indonesia Senasib Dengan Bursa SGX?

SGX hanya mengalami downtime selama 13 menit. Hal ini berkat adanya cadangan sistem (disaster recovery) yang dapat mengalihkan operasional dibawah 15 menit. Tentunya hal ini di dukung dengan infrastruktur data center dan penggunaan media sistem fail-over yang terbaik.

Akankah Bursa Efek Indonesia Senasib Dengan Bursa SGX?

Downtime dapat terjadi oleh beberapa sebab. Kelumpuhan sistem di SGX disebabkan oleh salah satu perangkat yang rusak. Tentunya, hal ini sudah terdeteksi dengan piranti lunak untuk monitoring software dan hardware. Akan tetapi, downtime 13 menit tersebut menyebabkan hilangnya transaksi sebesar Rp. 3.5 triliun, seperti yang dilansir oleh ComputerWorld.

Kejadian downtime seperti yang di alami SGX dapat mendorong hilangnya kepercayaan para pelaku di pasar saham terhadap bursa.

IDX atau BEI, memiliki nilai transaksi per hari sebesar Rp. 8 Triliun di tahu 2016 yang lalu. Dengan jam operasional selama 10 jam, maka per menit downtime akan berpotensi kehilangan nilai transaksi sebesar Rp. 133 milyar. Jika dibandingkan dengan lamanya downtime pada SGX (13 menit) maka potensi transaksi hilang pada Bursa Efek Indonesia adalah sebesar Rp. 1.7 triliun lebih.

SGX memilki sistem pengalihan dari data center utama ke data center cadangan atau disaster recovery center yang cukup baik, akan tetapi hal tersebut belum dapat membawa kepuasan bagi para pengguna. Potensi kerugian downtime yang cukup besar terus menghantui seluruh bursa efek di belahan dunia manapun.

Bursa Efek Indonesia, hingga detik ini belum pernah mengalami downtime.

Setidaknya, para pelaku pasar efek di Indonesia belum merasakan adanya downtime. Hal ini mungkin saja karena sistem induk dan infrastruktur BEI belum mengalami masalah sama sekali. Akan tetapi, jika kita lihat lagi, tidak ada sistem yang dapat berjalan mulus 100%. Tentu, dibalik sistem dan infrastruktur teknologi informasi BEI juga ada sistem cadangan yang mendukung. Dan ini sangat berkemungkinan bahwa sistem fail-over yang di pakai BEI dapat mengatasi downtime bahkan kurang dari 1 menit!.

Dalam hal ini, BEI harus dapat mempertahankan sistem dan disaster recovery center yang mereka pakai selama ini.

Resiko Besar Tetap Menghantui Bursa Efek Indonesia

Sebagaimana yang kita ketahui, sepanjang tahun 2016 hingga Februari 2017 ini, serangan cyber ke lembaga keuangan terus meningkat. Sistem pemulihan bencana semakin menjadi faktor penting dalam menjaga operasional seluruh jenis bisnis. Terutama pada sebuah bursa efek seperti BEI, keterlambatan dalam mengalihkan ke situs cadangan dalam hitungan menit dapat mengakibatkan hilangnya potensi nilai transaksi sebesar Rp. 133 milyar.

Dalam menggunakan disaster recovery untuk sebuah bursa efek, selain standardisasi data center tersebut juga perlu diperhatikan pengalaman dan track record. Dalam hal ini, biaya layanan disaster recovery center tidak akan sebanding dengan potensi kehilangan transaksi Rp. 133 milyar per menit. Oleh karena itu, Bursa Efek Indonesia sebaiknya tidak mengambil resiko dalam hal ini. Alih-alih mendapatkan biaya yang lebih murah untuk sistem DRC, malahan mendapat hilangnya kepercayaan investor jika terjadi downtime dan terlambat dalam sistem fail-over tersebut.

Sistem pemulihan bencana memerlukan teknologi yang paling update. Saat ini, dengan hybrid data center yang memadukan sistem cloud dengan infrastruktur fisik dapat lebih mempercepat pengalihan sistem dalam hitungan detik.

Evolusi Teknologi Disaster Recovery

Teknologi disaster recovery terus berkembang dan mengarah pada solusi Disaster Recovery as a Services atau yang di singkat DRaaS. Solusi pemulihan bencana seperti ini memang tergolong baru. DRaaS memiliki jaminan fail-over maksimal 15 menit. Ini merupakan sebuah revolusi dalam dunia solusi disaster recovery di Indonesia. Dan jika Bursa Efek Indonesia dapat memakai sistem ini, tentunya kelancaran operasional dapat lebih terjaga.

Kejadian pada Bursa Efek di Singapura tersebut bukanlah satu-satunya kejadian downtime di bursa efek. NYSE (New York), LSE (London), ASE (Australia), PSE (Filipina) dan sebagian lainnya pernah mengalami downtime hingga 7 jam. Dan tetap, para investor dan pialang saham tidak dapat menerima alasan apapun atas kejadian tersebut.

Track record Bursa Efek Indonesia dalam hal kelancaran transaksi hingga kini tetap menampilkan performa yang bagus. Apalagi jika ditambah dengan sistem pemulihan bencana yang tercanggih bagi para Anggota Bursa. Tentunya, tiada pilihan lain selain memakai teknologi terbaru dan tercanggih yang dapat melakukan fail-over kurang dari 15 menit.

Semoga kelancaran transaksi dan ketersediaan akses selama jam trading di BEI dapat terus terjaga seperti yang sudah berjalan selama ini. Sehingga IHSG pun dapat terus terjaga nilainya 😉

Silahkan berdiskusi..

Comments are closed.

Pin It on Pinterest

Share This