Nilai Kerugian Bisnis Akibat Server Terganggu Cukup Besar

Perusahaan sektor publik yang melayani jutaan orang setiap harinya sangat beresiko menghadapi kerugian akibat downtime yang diakibatkan karena kurangnya perencanaan strategis terhadap data center perusahaan tersebut sehingga dapat terjadi kelumpuhan sistem.

Survery tingkatan downtime pada server di data center perusahaan (inhouse data center)

Sebuah suvery tingkatan downtime yang terjadi pada data center in house menemukan bahwa 39% perusahaan mengalami downtime selama hampir 9 jam per tahunnya, tentunya hal ini berdampak pada kerugian dan biaya downtime yang besar akibat kinerja yang tersendat.

Beberapa penyebab downtime antara lain seperti salah mengkonfigurasikan set perangkat server, perubahan atau penambahan sofware yang berdampak ke sistem di data center perusahaan, jaringan tidak optimal, pengukuran beban kerja tidak tepat, listrik padam, bencana alam, yang mengakibatkan sistem berhenti bekerja.

Kesalahan Konfigurasi Pada Server di Data Center Perusahaan

IT Process Institute melalui laporannya pada Visible Ops Book menyatakan bahwa 80% dari kesalahan sistem karena adanya salah perencanaan pada perubahan yang dilakukan oleh administrator IT (staff operasional IT) dan para pengembang. Menelusuri masalah ini, Enterprise Management Association melaporkan bahwa 60% masalah performa dan ketersediaan layanan IT disebabkan karena kesalahan konfigurasi seperti saat melakukan perubahan implementasi yang berdampak pada lingkungan (seluruh) infrastruktur data center perusahaan dan parameter konifgurasi sistem sehingga mengakibatkan kegagalan pada aplikasi penting yang digunakan oleh seluruh karyawan.

Keasalahan akibat konfigurasi manual dapat menimbulkan biaya 72.000 dolar per jam akibat terhentinya layanan aplikasi berbasis web. Pada saat yang sama, biaya perbaikan aplikasi dan jasa manajemen aplikasi terus mengalami kenaikan 20% sampai 35% setiap tahunnya.

Potensi Kerugian Akibat Downtime

Biaya kerugian downtime dapat berbeda pada tiap jenis usaha, satu hal yang penting adalah perusahaan wajib mengetahui berapa biaya kerugian akibat downtime per menit, sehinga dapat mengukur kerugian akibat downtime per tahunnya. Setelah itu dapat dilakukan tindakan strategis dengan para CIO untuk menekan kerugian tersebut.

Kerugian Downtime Dari Pos Biaya Karyawan

Perusahaan yang memiliki 10.000 karyawan dengan rata-rata gaji Rp. 5jt per bulan, dapat mengalami potensi kerugian jika server terganggu sekitar Rp. 300jt per jam, jika setiap bulan total gangguan 1 jam yang mengakibatkan terhentinya aktivitas karyawan, maka dalam setahun total kerugian tersebut Rp. 3.5 milyar.

Kerugian Downtime Dari Pos Penerimaan

Semisal perusahaan operator telkom yang memiliki 10 juta pelanggan dengan penerimaan pada jam sibuk ( 9 jam) rata-rata sekitar Rp. 9.000 per pelanggan, maka jika dalam sebulan terdapat 1 jam kelumpuhan sistem disaat jam sibuk tersebut artinya perusahaan kehilangan penghasilan Rp. 1000 x 10jt = Rp. 10 milyar per jam.

Sebaiknya perusahaan yang bergantung pada sistem online menyisihkan sedikitnya 2.5% dari income untuk alokasi disaster recovery plan.

Demikian untuk perusahaan penerbangan dengan sistem reservasi yang deras, jika dalam sehari ada outages yang mengakibatkan layanan terhenti sehari maka kerugian yang terjadi juga cukup besar, seperti pada contoh kasus Virgin Blue di tahun 2010 yang layanannya terhenti 11 hari akibat kesalahan fatal pada server di data center perusahaan reservasi mereka tersebut mengakibatkan kerugian 20 juta dolar aau sekitar 250 milyar per bencana pada sistem mereka.

Berikut kalkulasi untuk menghitung potensi kehilangan pendapatan ataupun kerugian efektifitas biaya karyawan akibat downtime.

[CP_CALCULATED_FIELDS id=”1″]

Pentingnya Pengukuran Downtime dan Penanganannya

Kegagalan sistem merupakan tanggung jawab para CIO yang jika tidak dapat terukur dapat menyebakan kerugian sangat besar pada perusahaan. Oleh karena itu departemen IT di tiap perusahaan sebaiknya dapat memberikan estimasi downtime berdasar perhitungan dari benchmark dari pengalaman sebelumnya.

Banyak cara pengukuran yang dapat dilakukan, yang paling umum adalah Jarak Waktu Kegagalan (JWK) yang merupakan waktu rata-rata dibutuhkan sampai perbaikan sistem selesai, dan Jarak Waktu Perbaikan (JWP) yang mana merupakan waktu rata-rata yang dibutuhkan sampai sistem dapat berjalan setelah diperbaiki untuk setiap ada kegagalan sistem.

Penanganan downtime dapat dilakukan setelah dapat mengukur potensi downtime, ada beberapa atribut yang perlu diperhatikan untuk menangani downtime yakni:

  • Arsitektur Sistem. Untuk mengukur sampai sejauh mana sistem dapat pulih ketika terjadi kegagalan sistem.
  • Cadangan sumber daya seperti back up infrastruktur, aplikasi dan data. Sehingga jika mengalami downtime maka sistem secara otomatis menggunakan infrastruktur cadangan tersebut.
  • Kecepatan penggantian hardware yang rusak.
  • Fasilitas administrasi sistem seperti monitoring, pelaporan kerusakan dan potensi kerusakan, serta sistem pemulihan otomatis.
  • Kebutuhan infrastruktur pendukung seperti pasokan listrik, sistem pendingin dan sebagainya, yang mana jika terjadi pemadaman listrik aktivitas operasional IT tidak boleh terganggu.
  • Jaminan Kualitas Hardware dan Software dari Vendor.

Berikut kalkulator perhitungan biaya pemulihan sistem:

[CP_CALCULATED_FIELDS id=”2″]

Memang pada dasarnya perusahaan yang tidak bergerak dibidang IT tidak dapat terlalu fokus pada masalah ini karena fokusnya adalah apa yang bisnis utamanya jalankan, disinilah semakin jelas pertimbangan dalam memilih jasa colocation server – dimana layanan colocation service pada sebuah faslitas data center tier III plus dengan tingkat uptime 99.99% atau toleransi down time 1.5jam sampai 30 menit per tahun yang juga menyediakan jasa managed services lengkap termasuk infrastruktur dan keamanan yang mana dapat menjawab isu resiko akibat downtime tersebut bahkan bisa sampai zero downtime, terutama untuk perusahaan besar, penanaman modal asing (PMA) dan institusi pemerintahan.

Silahkan berdiskusi..
Penanggulangan Bencana Banjir Dengan Big data
10 Data Center Terbesar di Dunia

One Response so far.

  1. […] baca juga kerugian akibat down time serta kentungan menggunakan colocation server yang dapat diandalkan 24/7 x […]