Perusahaan Startup Unicorn Mulai Menghadapi Kesulitan

Jumlah startup unicorn telah meningkat secara eksponensial dalam beberapa tahun terakhir. Namun pada akhir tahun lalu ada indikasi, bahwa trend tersebut mulai mereda. Banyak perusahaan startup unicorn yang melakukan tidak sebaik yang diharapkan. Kenapa tidak? Beberapa analis menyalahkan penilaian realistis sementara yang lain menyebutkan pengeluaran yang berlebihan. Keduanya benar sampai batas tertentu dan banyak yang telah ditulis di arena ini. Meskipun begitu, ada alasan mendesak yang sama, mengapa startup unicorn mulai “sekarat” yakni: kegagalan untuk berinovasi ketika pesaing menyusul.

perusahaan startup unicorn mulai hadapi kesulitan

Istilah Unicorn merupakan perusahaan startup yang memiliki modal diatas USD 1 Milyar atau diatas Rp. 13 triliun. Nilai yang fantastis untuk perusahaan yang baru awal berdiri. Ini merupakan fenomena yang didorong oleh kecepatan perkembangan teknologi informasi.

Contoh Sepak Terjang Beberapa Perusahaan StartUp Unicorn

Pelopor online file sharing – Dropbox, memberikan konsumen cara mudah dan murah untuk menyimpan dan berbagi file; Sejumlah perusahaan menyediakan barang dan jasa on-demand melalui aplikasi smartphone yang sebelumnya sulit untuk diakses dengan cepat oleh konsumen.

Salah satu unicorn paling sukses sampai saat ini adalah Dropbox. Dengan konsep online file sharing dan ruang penyimpanan perusahaan yang didirikan pada tahun 2007. Dropbox membuat penyimpanan online dapat diakses oleh konsumen dengan membangun sebuah folder sederhana pada desktop Anda.

Pada dasarnya dropbox memberikan perluasan dari sistem operasi komputer Anda. Dengan ide cemerlang yang menggabungkan konsumen dengan teknologi, Dropbox menjadi salah satu unicorn pertama. Dropbox harus bekerja pada inovasi baru jika berniat untuk bersaing dengan pemain besar. Pesaing yang lebih kecil – Box, sudah bekerja pada inovasi lainnya, termasuk aplikasi manajemen proyek.

Hal yang sama juga terjadi pada salah satu perusahaan startup unicorn di Indonesia, GoJek. Perusahaan GoJek menghadapi persaingan dari startup lainnya yang terus bermunculan. Beberapa waktu yang lalu para “driver” GoJek mengeluhkan layanan aplikasi yang sering bermasalah. Dilain sisi, GoJek tetap melakukan diversifikasi layanan sebelum menguatkan infrastruktur dasar mereka. Ini dapat menjadi masalah besar suatu saat, menurut hemat kami.

Kenapa Perusahaan Startup Unicorn Mulai Hadapi Kesulitan?

Para Startup Unicorn beroperasi dengan skala besar dan mapan. Mereka mampu tumbuh cepat dengan berfokus pada ide besar yang terkadang cukup bagus. Seperti pada kasus tutupnya FoodPanda di Indonesia, kita dapat petik pelajaran berharga bahwa perusahaan startup harus menerapkan budaya kerja yang dapat mendukung operasional, ketahanan bisnis, dan perkembangan usaha.

Seperti apa yang sedang terjadi pada GoJek, demikian terjadi di Tokopedia. Sebuah situs marketplace yang terlalu bersifat “global”, semua produk ada. Dengan fitur yang ada saat ini, Tokopedia hanya memberikan peluang bagi para pedagang online yang paling memiliki harga termurah. Prinsip bisnis paling utama adalah jual beli, awalnya tokopedia hanya menyediakan rating bagi penjual. Bagusnya, perusahaan startup unicorn ini cepat beradaptasi terhadap “Suara Pengguna”, sehingga sistem rating kini juga ada untuk para pembeli.

Dari kedua contoh kasus perusahaan startup unicorn Indonesia tersebut, kita dapat membedakan mana yang cepat bergerak menghadapi tuntutan sebelum “dituntut” dan mana yang tidak. Hal yang membedakan mereka adalah budaya kerja. Silahkan baca mengenai “Budaya Kerja DevOps” yang banyak mengantarkan perusahaan startup menjadi startup unicorn. Budaya kerja DevOps dapat cepat menghadapi dinamika bisnis, namun ketika perusahaan startup mendapat dana besar terkadang mereka melonggar terhadap kebijakan DevOps yang telah mengantar mereka pada keberhasilan awal.

Begitu mendapatkan pendanaan besar, perusahaan mulai mempekerjakan lebih banyak karyawan. Staff awal pendirian usaha mulai membuat resume untuk melamar kerja di tempat lain, berharap dapat kenaikan gaji. ini mengakibatkan penurunan budaya kerja di perusahaan yang cukup serius.

Disamping itu, bisa saja arah penambahan dana menjadi tidak jelas. Yang tadinya perusahaan startup tersebut berniat membawa suatu bisnis yang efektif, akhirnya sedikit bergeser pada permainan pendanaan.

Para investor mulai merasakan pesimis terhadap kerugian berkesinambungan perusahaan startup unicorn. Jika pendanaan terhenti, maka dapat membawa perusahaan startup pada jurang kegagalan. Keyakinan investor ini yang perlu dijaga oleh para perusahaan startup.

konsultan devops

Harga Saham Startup Unicorn Menurun Drastis

Harga saham perusahaan startup unicorn telah jatuh 54% sejak 2014. Sebanyak 12 dari startups telah resmi ditutup, dan hampir semua dari mereka sedang mengalami kerugian berkesinambungan. Perusahaan startup dapat tutup jika kerugian berkesinambungan tersebut tidak di tambah dengan modal segar. Hal tersebut dapat membuat posisi perusahaan mereka pada status pailit jika akumulasi saldo rugi sudah berada di atas 50% dari modal disetor.

Para investor perusahaan startup-pun mengakui bahwa mereka telah kehilangan USD 691 juta, atau sekitar Rp. 8.983.000.000.000 (hampir 9 triliun). Tentunya, puncak trending atau “heap wave” dapat masuk ke jurang penurunan dengan dasar tersebut. Sentimen negatif semakin menguat di seluruh penjuru dunia, oleh karena itu perusahaan startup di Indonesia sebaiknya harus sudah mulai berhati-hati.

Perkuat infrstruktur, kurangi kelambatan akses aplikasi, terus evaluasi budaya kerja DevOps, terus memilih ide inovasi dan menerapkan yang paling berdampak positif. Peluang bisnis masih banyak yang bisa di ambil di Indonesia, secara Indonesia masih berada pada fase “stand-out” dalam indeks evolusi digital (versi Harvard Business Review).

Intinya, proyeksi laba akan tidak berlaku lagi jika rugi berkesinambungan sudah lebih dari 3 tahun. Kecuali investor benar-benar yakin dengan apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dilakukan. Kesehatan perusahaan dapat terlihat dari pembagian dividen, bukan pada jual beli saham ataupun penambahan modal.

Silahkan berdiskusi..

2 Responses so far.

  1. […] Ide besar dan spektakuler tanpa di dukung pengembangan inovasi berkelanjutan dan pemborosan membawa kesulitan besar bagi para perusahaan startup unicorn.  […]

  2. […] ini, bisnis dihadapi dengan perubahan pada transformasi digital. Kita dapat melihat banyaknya perusahaan startup unicorn yang melibas perusahaan lama yang stabil bahkan mengakuisisi perusahaan lama tersebut. Hal ini […]

Pin It on Pinterest

Share This