Manfaat Pemulihan Bencana untuk Layanan Perbankan FinTech

Indonesia dengan 135 juta pengguna internet – yang mayoritas mobile, telah membuat sebuah pergeseran dalam layanan perbankan. Financial Technology atau yang sering disebut FinTech merupakan jawaban dari industri keuangan dalam mengadopsi perubahan tersebut.

Manfaat Pemulihan Bencana untuk Layanan Perbankan FinTech

Bisnis dalam era transformasi digital sekarang ini akan lebih banyak berkompetisi dalam memberikan cara-cara terbaru yang lebih mudah dari sebelumnya. Sekarang sudah banyak perusahaan FinTech di Indonesia (kurang lebih 135 perusahaan terdaftar di OJK per 2016). Perusahaan tersebut baik dari institusi keuangan maupun tidak, berlomba dalam membuat aplikasi yang dapat memberikan beragam layanan transaksi.

Perkembangan Layanan Perbankan Fintech di Indonesia

Seiring dengan perkembangan tersebut, serangan cyber juga semakin ber-evolusi. Mereka menargetkan serangan pada layanan perbankan dan asuransi. Serangan tersebut dapat mematikan sebuah layanan online banking selama berhari-hari. Bahkan, ada juga serangan cyber yang dapat mematikan CCTV di satu kota.

Matinya layanan perbankan akan menyebabkan gagalnya milyaran hingga triliunan transaksi. Hal ini akan membawa pada konsekuesi biaya dan brand image perusahaan perbankan atau perusahaan Fintech tersebut. Keamanan dalam dunia digital sekarang ini memang perlu di tingkatkan dengan cara-cara terbaru dan paling efektif.

Dalam hal transformasi digital, layanan perbankan yang memakai aplikasi FinTech harus dapat terus menerus di akses oleh pengguna. Pertanyaannya adalah, bagaimana membuat opeasional dapat tetap berjalan sementara sistem sedang di serang atau mengalami masalah ?

Pemulihan Bencana Diperlukan Pada Layanan Perbankan Fintech

Salah satu cara yang paling efektif dalam mencegah downtime layanan perbankan adalah dengan memanfaatkan sistem pemulihan bencana. Disaster recovery center atau situs pemulihan bencana merupakan sebuah data center khusus yang berbeda lokasi dengan data center pusat operasional layanan perbankan.

Sebuah layanan bank akan lebih terjamin operasionalnya secara keseluruhan jika telah menggunakan sistem disaster recovery yang dapat diandalkan sesuai kebutuhan. Biaya pemulihan bencana ini sepintas cukup mahal, akan tetapi jika layanan perbankan lumpuh maka akan jauh lebih mahal secara eksponensial.

Pemulihan bencana dapat bermanfat untuk layanan perbankan Fintech dalam berbagai hal, antara lain untuk lebih meningkatkan keamanan data dan kelancaran akses aplikasi bagi pengguna maupun aplikasi internal untuk operasional.

  • Keamanan Data

    Dalam hal keamanan data, aplikasi Fintech cukup rentan terhadap serangan Phising. Pencurian identitas nasabah dapat dilancarkan oleh sebuah serangan cyber, dan tentunya ini akan berdampak buruk pada bisnis perbankan.

    Perusahaan perbankan dapat menerapkan konsep keamanan “Zero Trust Network” dimana data yang tersimpan di public cloud merupakan data yang fana. Data tersebut dapat dialihkan kemudian ke server data center induk di perusahaan. Setelah itu, data-data tersebut di enkripsi dan di replika pada disaster recovery center milik pihak ketiga. Dengan cara ini, key logger dari aksi serangan phishing tidak akan berpengaruh terhadap akses data nasabah.

  • Aksesibilitas Lebih Lancar

    Saat salah satu unit atau sistem aplikasi yang berjalan mengalami kegagalan ataupun diserang, perusahaan perbankan tidak perlu khawatir terhadap downtime. Dengan sistem dan data cadangan yang ada di disaster recovery center, maka seluruh layanan dapat kembali berjalan dalam waktu kurang dari 2 jam.

Kegagalan sistem, serangan cyber, kesalahan konfigurasi, listrik padam, merupakan bencana dalam operasional perusahaan yang banyak menggunakan IT dan internet. Bencana tersebut tidak dapat di pastikan kapan akan terjadi. Sebuah downtime dapat menggerogoti anggaran perusahaan hingga Rp. 10 Milyar per jam.

Oleh karena itu, dengan tersedianya sebuah sistem pemulihan bencana maka operasional perusahaan dan layanan perbankan Fintech dapat terus berjalan tanpa henti.

Di Indonesia, hampir seluruh bank besar telah memiliki sarana disaster recovery. Namun sayangnya, mereka masih menggunakan situs pemulihan bencana yang berada di luar negeri. Berdasarkan praktik terbaik dalam pemulihan bencana, lokasi situs cadangan tidak boleh lebih dari 50 KM. Hal ini ditujukan untuk mencegah data yang hilang ataupun tidak sinkron pada proses fail-over dan pemulihan (recovery).

Data Center Indonesia telah sejajar kualitasnya dengan data center di negara manapun. Hanya saja, dalam hal disaster recovery center tidak bisa sembarang data center yang di pilih. Pilihlah data center yang telah memiliki sertifikasi minimal Tier III dari Uptime dengan jaminan ketersediaan akses non-stop 99.99% dan memiliki standarisasi keamanan ISO 270001. Kedua standarisasi tersebut merupakan hal penting untuk memastikan jaminan layanan mereka.

Penetapan Anggaran Pemulihan Bencana (Disaster Recovery )

Untuk menetapkan anggaran pemulihan bencana, sebuah perusahaan harus mengukur downtime yang terjadi di tahun lalu, toleransi waktu downtime dan potensi kehilangan nilai bisnis yang di selaraskan dengan Dampak Analisa Bisnis (Business Impact Analysis). Hal ini akan melibatkan seluruh departemen terkait.

Selanjutnya, perusahaan dapat menghitung nilai kerugian downtime per jam,  per bulan dan per tahun. Dengan 3 jenis periode tersebut, perusahaan akan lebih mudah menentukan nilai anggaran pemulihan bencana untuk operasional perusahaan.

Untuk infrastruktur IT, para pimpinan perusahaan (CIO, CFO dan CTO) harus satu suara., yakni Sistem Pemulihan Bencana yang bagaimana yang dapat mereka gunakan di perusahaan. Mereka tidak perlu ragu dalam menetapkan layanan disaster recovery yang di pilih, setelah memilih antara Managed Private Dedicated Cloud Services  dengan pembayaran sesuai pemakaian, atau dengan sistem di on-premise yang menggunakan server fisik.

Pemilihan tersebut akan menghadapkan perbandingan Capital Expenditure (Capex) dan Operational Expenditur (Opex). Cloud Disaster Recovery as a Services (DRaaS) dapat secara drastis menurunkan Capex. Pada volume pemakaian cloud tertentu, memang akan jauh lebih efisien memakai sistem cloud, akan tetapi jika jumlah tergolong besar sebaiknya perusahaan memakai layanan DRaaS yang memiliki infrastruktur data center fisik sendiri. Ini merupakan titik cerah dalam memenuhi tuntutan perkembangan dan untuk memenuhi kepatuhan dan pemenuhan persyaratan para regulator.

Kami dapat merekomendasikan Elitery Data Center & Managed Services Provider sebagai tujuan awal anda dalam memenuhi kebutuhan pemulihan bencana untuk perusahaan anda. Perusahaan disaster recovery center tersebut memiliki standar kualitas dunia. Dengan pengalaman operasional disaster recovery data center selama 4 tahun lebih hampir tanpa downtime, tentunya anda tidak perlu ragu lagi untuk menghubungi perusahaan tersebut di nomor telepon 021-750-2976.

Semoga pada era Fintech ini, transaksi layanan keuangan Indonesia semakin lancar dan meluas jangkauannya. Kami sangat terbuka untuk diskusi secara online pada reply comment dibawah ini (protected by akismet anti spam). Terimakasih, RI.

Silahkan berdiskusi..
Transformasi Digital Dalam Meningkatkan Layanan Perbankan
Akankah Bursa Efek Indonesia Senasib Dengan Bursa SGX ?
Post Tagged with

Comments are closed.